PELINGGIHHYANG SIWA: Sebagai Sentral dari Pelinggih-pelinggih Dewata Nawa Sanga yang Ada Dalam kanda pat sari disebutkan ada banyak intisari/kekuatan/daya dalam tubuh manusia yang harus mendapat perhatian yakni intisari yang perlu dihidupkan, dikembangkan karena sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. BalikuYang Indah | Dewata Nawa Sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widhi. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yan Dalampengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata) Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata) Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna.Ia bersenjatakan Padma , dan ia mengendarai Lembu Nandi . Aksara Suci Dewa Siwa adalah I dan Ya .Ia dipuja di Indonesia , di Bali , tepatnya di Pura Besakih. Di Indonesia , kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Adya / Siwa / Pusat / Segala DewataNawa Sanga Adalah Sembilan Penguasa Di Setiap Penjuru Mata Angin. Dalam kitab suci Hindu, ada tertulis bahwa Ia bisa menjadi terkesan ketika seseorang mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada-Nya dan tunduk kepada dermawan, kehidupan yang mulia. yang merupakan realitas tertinggi akhir eksistensi manusia, dan tubuh manusia nya Nawadewata(Sembilan Dewa) atau Dewata Nawa Sangha adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin dalam konsep agama Hindu Dharma di Bali.Sembilan penguasa tersebut merupakan Dewa Siwa yang dikelilingi oleh delapan aspeknya. Diagram matahari bergambar Dewata Nawa Sanga ditemukan dalam Surya Majapahit, lambang kerajaan Majapahit.. Bagian-bagian Nawa Dewata Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. p>Humans as socio-cultural creatures can never be separated from the use of symbols, including symbols related to linguistics, which are used as sacred symbols in Hinduism in Bali, namely scripts, both Wreastra and Wijaksara Scripts. Hindus in Bali, for the most part, consider that the Wreastra script is only an ordinary script, which has no philosophical meaning, making researchers interested in studying the philosophical meaning in the Wreastra Script that is accompanied by the study of Wijaksara Script. Starting from this background, there are several research problem formulations, namely what is the meaning of the Wreastra and the Wijaksara Scripts in Hinduism. To answer these problems, the researcher use structural theories, semiotic theories, and theories of meaning. This type of research is qualitative research, with a philosophical-symbolic approach. The results of this study are the Wreastra and Wijaksara scripts have a meaning as worship to the God with all its manifestations adjusted to the script used. The application of the Wreastra and Wijaksara scripts in religious ritual activities in Bali as part of socio-religious activities can be seen from its use in the Rerajahang Kajang, Ulap-Ulap and Pecaruan rites. The conclusion that can be drawn is that the Wreastra and Wijaksara scripts have a high philosophical meaning of God, so that in writing and its use is not arbitrary, always starting with prayer of worship to the God.

dewata nawa sanga dalam tubuh manusia